•CERPEN

Seorang gadis cantik nan manis tengah berjalan dengan kedua orang sahabat barunya. Ya, gadis itu adalah siswi baru di sekolahnya. Gadis hendak memasuki kelasnya namun, ia menghentikan langkahnya ketika ia melihat seorang siswi berambut sebahu yang menatapnya tajam. 

"Mira, ayo masuk ke kelas bersama. Sebentar lagi guru pasti datang", ucap gadis manis itu. Sedangkan gadis yang dipanggil Mira itu hanya menatapnya tajam. 

"Nggak usah sok peduli. Kau hanya penghancur kebahagiaan orang", ucap Mira tajam lalu pergi dari tempat duduknya dan memasuki kelas.  

"Sudahlah Dira, Mira buruh waktu untuk membuang pikirannya yang buruk terhadapmu", ucap Dela, salah satu sahabat Dira. Dira menghembuskan nafas lelah. Lalu menatap kedua sahabatnya dengan senyum manisnya. 

"Baiklah. Aku akan menunggunya berubah dan mau berteman denganku. Aku bahkan tak tau mengapa dia begitu benci padaku, padahal nama kami hampir mirip. Dan selama 3 bulan aku bersekolah di sini, hanya Mira yang menatapku dengan benci", ucap Dira sabar lalu memasuki kelasnya bersama kedua sahabatnya. 

Tak lama guru yang akan mengajar mereka datang. Dan menyapa semua murid di kelas. 

"Selamat pagi semua", ucap Guru laki-laki yang sudah berumur kepala tiga itu. 

"PAGI PAK", balas mereka serempak. 

"Dira, kamu tolong bagikan buku matematika kalian ini ya, Nak", titah Guru berinisial S.H itu. 

"Baik Pak", ucap Dira dengan senyumannya. Gadis itu tak menyadari bahwa seseorang menatapnya penuh benci dan dendam. 

Dira membagikan buku matematika teman-temannya secara teratur. Ketika dia ingin memberikan buku natematika Mira, gadis itu malah terjatuh karena tersandung kaki Mira. Mira tertawa melihat Dira yang sudah jatuh dengan mata berkaca-kaca. Semua orang menatap Mira horor. 

"Mira, kamu itu selalu saja mengerjai Dira. Padahal sifat kamu dulu, sangat berbanding terbalik dengan sekarang", tegur Pak S.H pada Mira yang kini menatap Dira dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Dira. 

Dira bangkit dari jatuhnya lalu menatap Mira lembut. Gadis itu berharap teman sekelasnya yang satu ini bisa menerimanya dan mau berteman dengannya. Tapi, semua itu hanya andai. Tampaknya Mira benar-benar benci pada Dira sekarang. 

"Sudah Dira, kamu duduk ke tempat dudukmu", ucap Pak S.H, Dira hanya mengangguk lalu duduk di kursi miliknya. 

Pelajaran pun kembali dilanjutkan. Selama pelajaran berlangsung, Mira terus menatap Dira dari belakang lalu tersenyum licik. 

                           🍁🍁🍁

Teng... teng... teng...

Bel pulang sekokah berbunyi membuat semua murid bersorak riang. 

"Baiklah anak-anak. Sampai di sini dulu pelajaran kita hari ini. Jangan lupa untuk mengerjakan tugas yang sudah Bapak berikan ya", ucap seorang wanita yang mengajar pelajaran IPA tersebut. 

"BAIK BU", ucap mereka serempak. 

"Dira, kamu tingkatkan lagi pelajaran kamu ya. Soalnya kamu akan ikut lomba sains bulan depan", ucap Wanita itu membuat Dira terkejut sekaligus senang. Gadis manis itu tersenyum kearah gurunya lalu mengucapkan terima kasih. 

"Baik Bu. Saya akan meningkatkan pelajarannya saya. Dan sebisa mungkin memberikan yang terbaik buat sekolah kita nanti", ucap Dira senang. 

"Baiklah kalau begitu Ibu pergi dulu. Langsung pulang ke rumahnya masing-masing ya. Jangan keluyuran lagi", pesan guru iti membuat semnua mengangguk.

Guru itu keluar dari kelas, membuat semuanya ikut keluar. Begitupun dengan Dira dan kedua sahabatnya. 

"Ehh Dir, kamu bilang orangtua kamu lagi di Bandung bukan sih?", tanya Dela memastikan.

"Iya, soalnya tadi mereka udah ngirim pesan kalau mereka udah ada di Bandung. Jadi, aku tinggal di rumah sendirian deh", ucap Dira menjelaskan dengan wajah lesu. 

"Bukannya kamu punya Abang ya? Memangnya Abang kamu kemana?", tanya Dila sahabat Dira satu lagi. 

"Abang aku katanya nginap di rumah temannya. Katanya sih, tugas kuliahnya numpuk. Jadi, dia harus nginap di rumah temannya", jelas Dira membuat kedua sahabatnya mengangguk. 

"Kamu mau ditemenin nggak? Biar kamu ada temannya di rumah", usul Dela pada Dira membuat Dira berpikir sebentar. 

"Nggak usah deh. Lagipula aku nggak msu ngerepotin kalian berdua. Aku juga udah biasa ditinggal sendiri sama Mama, Papa", ucap Dira membuat kedua sahabatnya itu lagi-lagi mengangguk. 

"Oke deh", ucap kedua sahabatnya itu serempak. Tak lama jemputan ketiganya datang secara bersamaan. Mereka saling berpamitan lalu masuk ke dalam mobil masing-masing. Entah kenapa, Dira merasa tidak enak. Hatinya gusar, dan merasa takut. Tapi segera mungkin gadis itu menepis pikiran buruknya. Sekitar 15 menit menempuh perjalanan, akhirnya Dira sampai di rumahnya lalu membayar taksi online itu. Dira membuka pintu utama rumahnya lalu masuk ke dalam setelah dia menutupnya kembali. 

Gadis itu manaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Gadis manis itu mengganti seragamnya menjadi pakaian sehari-harinya di rumah. Gadis itu memakai kaos putih polos yang agak kebesaran dan celana hotpans. Gadis itu berjalan menuju dapur dan mengambil air putih dan beberapa cemilan. Dira meletakkan cemilan dan air putih itu di atas meja yang berada di depan televisi. 

Saat sedang santai-santainya, tiba-tiba ada yang membunyikan bel rumahnya. Membuat perhatian gadis itu teralih. Gadis itu berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu untuk orang yang memencet bel rumahnya. Dan betapa terkejutnya dirinya melihat siapa yang datang ke rumahnya sore-sore begini. 

"Mira?!", ujar Dira kaget melihat yang bertamu ke rumahnya ialah Mira, gadis yang selalu menatap tajam dan benci padanya. Mira tersenyum pada Dira yang masih kaget menatapnya. 

"Hai", sapa Mira pada Dira membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. 

"Ha-hai. Kamu ngapain ke sini? Dari mana kamu tau kalau rumah aku ada di sini?", tanya Dira beruntun membuat Mira tersenyum. Tapi, menurut Dira lebih baik Mira menatapnya sinis dari pada tersenyum padanya. Kesannya jadi horor.

"Memangnya aku nggak boleh datang ke sini? Aku bahkan mau niat minta maaf sama kamu. Soal dari mana aku tau kamu tinggal di sini atau enggak, aku tau dari Dela dan Dila", ucap Mira semakin melebarkan senyumnya. Bohong. Semua yang dikatakan Mira itu bohong. Ia mengetahui rumah Dira karena dia mengikuti Dira sampai ke rumahnya. Dan soal minta maaf, bahkan dirinya tak pernah berfikiran untuk meminta maaf padanya.

"O-oh. Aku kira mau apa. Ayo masuk, nggak enak kalau di liat tetangga", ucap Dira mempersilahkan Mira masuk. Mira langsung masuk ke dalam rumah Dira yang terkesan mewah. 

"Ayo duduk. Sebentar ya aku buatin minum dulu", ucap Dira san Mira hanya mengangguk saja. Ketika Dira sudah masuk ke dapur, di situlah Mira menjalankan aksinya. Gadis licik itu mengambil sebuah pisau lipat dari dalam saku celananya lalu beranjak dari duduknya. 

Dira yang baru saja membuat teh buat Mira, terkejut ketika dia tidak melihat Mira ada di Ruang tamu. Gadis manis itu meletakkan teh yang ia buat di atas meja lalu pergi mencari Mira. Siapa tau gadis itu tersesat? Pikir Dira. 

"MIRA? MIRA? KAMU DIMANA? MIRA?", teriak Dira mencari keberadaan Mira. Gadis itu berjalan dan mendapati Mira yang sedang terduduk di bangku taman belakang milik keluarga Dira. 

"Mira? Kamu ngapain di sini? Ayo masuk aku udah buatin kamu teh", ucap Dira sembari mendekati Mira dan menyentuh pundak gadis itu. 

Mira menatap tangan Dira yang bertengger manis di pundaknya lalu memelintir tangan gadis manis itu. Membuat Dira merintih kesakitan. 

"Ahk. Kamu ngapain Mira?", ucap Dira sembari menahan sakit akibat tangannya dipelintir oleh Mira. 

"DIAM KAU!", bentak Mira membuat Dira terkejut. 

"Apa yang kau perbuat Mira? Bukankah kau ingin minta maaf padaku? Dan kita berteman? Kenapa kau melakukan ini padaku?", tanya Dira yang sudah menangis sesenggukan. Pikiran buruk mulai menghantui pikiran Dira. 

"HAHAHAHA. AKU TIDAK MUNGKIN MINTA MAAF PADA GADIS YANG SUDAH MEREBUT KEBAHAGIAANKU!", teriak Mira dengan kilatan marah. 

"Aku tidak pernah merebut kebahagiaanmu Mira. Bahkan aku tak tau mengapa kau begitu benci melihatku", ucap Dira sesenggukan. 

"KAU MEREBUT SEGALANYA DARIKU. SEBELUM KAU PINDAH KE SEKOLAHKU, SEMUANYA BAIK-BAIK SAJA. AKU YANG SELALU MENJADI KESAYANGAN GURU, AKU YANG SELALU MENDAPAT TEMAN YANG MENGELILINGIKU DENGAN KEBAHAGIAAN. DAN AKU YANG SELALU MENJADI UTUSAN SEKOLAH UNTUK MENGIKUTI LOMBA-LOMBA YANG DIADAKAN. TAPI, SEMENJAK KAU DATANG, SEMUA BERUBAH. KINI MEREKA TAK MAU MENEMANIKU, MEREKA TAK AKAN MENGIRIMKU UNTUK MENJADI UTUSAN SEKOLAH UNTUK PERLOMBAAN YANG ADA. KAU MEREBUT SEGALANYA DARIKU. ITULAH SEBABNYA AKU SANGAT MEMBENCI DIRA. AKU SANGAT MEMBENCIMU", teriak Mira lalu menghempaskan tubuh Dira ke tembok yang berada di dekatnya. Gadis itu menatap nyalang ke arah Dira yang hendak melarikan diri. Tapi, sebelum Dira melarikan diri, Mira sudah terlebih dulu menangkapnya lalu membenturkan kepala Dira ke tembok itu. 

"AAHHKK", erang Dira kesakitan. 

"HAHAHA. RASAKAN ITU", teriak Mira kesenangan. Sifatnya bak psikopat membuat Dira semakin ketakutan. 

"Maafkan aku Mira jika aku melakukan kesalahan padamu. Aku mohon jangan sakiti aku", ucap Dira ketakutan tapi justru membuat Mira bertambah senang melihat ketakutan yang diapancarkan Dira. 

"Sudah terlambat Dira", ucap Mira lalu mengambil pisau lipat dari dalam sakunya membuat Dira semakin ketakutan. 

"Kau mau apa Mira? Jangan berbuat yang aneh-aneh Mira", ucap Dira histeris, kini penampilan gadis itu sangat berantakan. 

"Aku akan membunuhmu Dira. Dengan begitu tak akan ada yang menjadi sainganku. Dan aku yang akan menjadi kebanggaan sekolah", ucap Mira semakin menggila. 

"Jangan Mira. Aku janji akan pindah sekolah dan tak akan menampakkan wajahku lagi padamu", ucap Dira memohon. 

"Sudah terlambat sayang. Dira, adakah kata-kata terakhir yang ingin kau katakan?", ucap Mira sembari memainkan pisau lipat itu dengan lihai. 

"Tidak ada ya? Baiklah kalau begitu..", ucap Mira lalu menancapkan pisau lipat itu pada perut Dira membiat gadis itu berteriak kesakitan. 

"AAAHHHKKK. INGAT MIRA KAU AKAN MENDAPAT BALASAN YANG SETIMPAL DARI TUHAN", teriak Dira lalu perlahan kesadarannya mulai menghilang. Di taman itu, Dira menghembuskan nafas terakhirnya dengan baju yabg sudah berlumuran darah. 

"HAHAHAHAHA", tawa Mira menggelar ke segala penjuru. Sungguh dia memang gadis gila. 

"ANGKAT TANGAN", teriak tiga irang laki-laki berseragam polisi membuat Mira terkejut lalu mengangkat tangannya ke atas. 

"ANDA KAMI TAHAN ATAS KASUS PEMBUNUHAN", ucap Polisi itu lalu memborgol Mira dan membawanya ke kantor polisi. Mira menatap Dela dan Dila yang tengah menangis melihat mayat Dira. 

"Semoga kau mendapat balasan yang setimpal Mira", ucap Dila lalu kembali menangis menatap mayat Dira. 

"Bawa dan penjarakan dia Pak. Kalau perlu berikan dia hukuman mati saja. Saya tidak menyangka kalau dia bisa berbuat seperti itu", ucap Dela menatap tajam dan tak percaya pada Mira yang kini tertawa gila. Sepertinya gadis itu mengalami gangguan jiwa. 

"Baik. Kami akan memanggil kalian untuk dimintai keterangan nanti", ujar Polisi itu membuat Dela mengangguk lalu mengusap lembut punggung Dila yang kini menangis histeris. 

"Del, Dira Del. Aku nggak nyangka ternyata Mira bisa berbuat sejauh ini", ucap Dila lalu kembali menangis sesenggukan melihat mayat sahabatnya yang kini di masukkan ke dalam kantung mayat. 

"Sudahlah Dila. Tenangkan dirimu. Mira akan mendapatkan balasan yang setimpal dari pihak hukum", ujar Dela menenangkan. 

Itulah kisah dari seorang Dira yang merupakan siswi baru di sekolahnya tapi malah mendapat nasib yang buruk di sekolah barunya. 


JADI BUAT AKU ADA LIMA HAL BURUK YANG AKAN DIALAMI SESEORANG KETIKA IA TERUS MENYIMPAN DENDAM. 

1. SELALU DIHANTUI OLEH MASA LALU. 

2. MERASA GELISAH BAHKAN DEPRESI.

3. KURANG MENGHARGAI KEBERADAAN ORANG LAIN. 

4. BERPOTENSI SAKIT KRONIS.

5. TIDAK MENSYUKURI HIDUP. 

Itulah beberapa hal yang akan terjadi pada diri kita saat kita menyimpan dendam yang berkepanjangan. Jadi, buat kita pada anak remaja masa kini, harus dapat mengendalikan emosi dan berusahalah untuk selalu dapat memaafkan orang lain agar kita terhindar dari masalah yang dapat membuat kita terjerumus pada hal-hal yang tidak baik.





      JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK YA. MAKSUDNYA KOMEN BIAR AKU TAU KALIAN BACA BLOG AKU ATAU NGGAK. 

                        MAKASIH
 

_Rachelsrg_ 

          




         

Komentar

  1. Seorang gadis cantik nan manis bernama stevie

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar